Wartwan nyaris di Amuk Massa Ketika Konfirmasi Dugaan Korupsi BDL - SINAR RAYA

Wartwan nyaris di Amuk Massa Ketika Konfirmasi Dugaan Korupsi BDL

Surabaya || sinarraya.co.id

Dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pengelolaan keuangan dana kas Bank Daerah dan pengajuan Kredit Fiktif yang dilakukan Bank Daerah Lamongan (BDL) yang ditangani Unit II Subdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Jatim berbuntut panjang. Pasalnya, Yuhronur Efendi yang pernah menjabat Plt. Direktur Utama (Dirut) BDL 2019 terlihat emosi dengan nada tinggi saat di konfirmasi wartawan www.suaramandiri.com, Jumat (27/11/2020) di area parkir Gedung JTV, Jl. A. Yani, Surabaya, usai menghadiri Acara Debat Publik Pilbup Lamongan 2020. Ironisnya, wartawan mendapat perlakuan yang tidak terpuji dengan didorong tubuhnya serta nyaris menjadi korban amuk massa sejumlah oknum pengawal dan oknum pria berkaos hitam bertuliskan YES BRO.

Kejadian bermula, sekitar pukul 21.14 WIB, Yuhronur Efendi usai menghadiri Acara Debat Publik Pilkada Lamongan tahun 2020 turun tangga dari gedung JTV dan berjalan ke arah parkiran menuju mobilnya.

Pada kesempatan itu, wartawan menjalankan tugas jurnalistik menghampiri Yuhronur Efendi untuk konfirmasi sebagai bahan pemberitaan atas dugaan Tipikor BDL. Wartawan bertanya kepada Yuhronur Efendi terkait dugaan tindak pidana korupsi dana kas dan kredit fiktif di Bank Daerah Lamongan (BDL) yang ditangani Unit II Subdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Jatim berdasarkan Surat Pengaduan Masyarakat tanggal 17 Juni 2020 dan Surat Perintah Nomor: Sprin/1344/VII/RES 3.3/2020/Ditreskrimsus, tanggal 9 Juli 2020.

Wartawan bertanya kepada Yuhronur. “Terkait dugaan korupsi BDL, apakah bapak sudah pernah diperiksa Polda, pak,” tanya wartawan kepada Yuhronur. “Katanya Siapa. Kata Siapa. Saya tidak mau menjawab,” kata Yuhronur dengan nada tinggi kepada wartawan.

Jawaban Yuhronur kepada wartawan, menarik perhatian sejumlah oknum pengawal dan oknum pria berkaos hitam bertuliskan YES BRO. Spontan, sejumlah oknum pengawal dan oknum pria berkaos hitam bertuliskan YES BRO menghalau dan menghalang halangi wartawan untuk konfirmasi lebih lanjut ke Yuhronur. Mereka berupaya menjauhkan wartawan dari Yuhronur. “Jangan mendorong saya, jangan arogan begitu,” ucap Yudha kepada massa. Tak elak, situasi memanas dan tidak kondusif. Wartawan Yudha pun nyaris menjadi korban amuk massa. Beruntung wartawan Yudha berhasil diselamatkan rekan wartawan media online www.suara-publik.com bernama Dwi Heri M.

“Saya sempat mengambil video kejadian. Memang benar, saya langsung menarik rekan Yudha wartawan www.suaramandiri.com dari kerumunan massa yang saat itu terlihat emosional. Lalu wartawan Yudha, saya bawa pergi menjauh dari kerumunan massa. Kemudian, Saya bawa masuk wartawan Yudha ke dalam mobil lalu meninggalkan Graha Pena,” ungkap Dwi yang juga mantan wartawan RADAR Surabaya (Jawa Pos Group).

Berdasarkan Undang Undang (UU) Pers No 40 Tahun 1999 pada Pasal 18 Ayat (1) menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

UU Pers No. 40 Tahun 1999, Pasal 4 ayat (2), berbunyi: Terhadap Pers Nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Pasal 4 ayat (3), berbunyi: Untuk menjamin kemerdekaan Pers, Pers Nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Yudha menegaskan, dirinya segera melaporkan kejadian ini ke Polda Jatim. “Saya sudah menyusun Surat Pengaduan untuk ke Polda Jatim. Dalam waktu dekat, saya beserta kuasa hukum ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim,” tutup Yudha. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *